Selasa, 07 Agustus 2018 07:32 WITA

Lihat Kodenya, Jangan Sampai Salah Oli

Editor: Aswad Syam
Lihat Kodenya, Jangan Sampai Salah Oli
ilustrasi oli

RAKYATKU.COM - Bagi Anda pengguna kendaraan bermotor, tentunya sudah tak asing lagi dengan yang namanya pelumas alias oli, yang bertujuan membantu kinerja mesin. Namun pernahkah Anda mencermati karakteristik dan juga bahan baku pembuatan oli tersebut? Dapatkah juga Anda membedakan mana oli mineral dan oli sintetis?

Oli mineral adalah semua pelumas yang dihasilkan oleh minyak bumi. Sedangkan oli sintesis adalah pelumas berbahan baku gas bumi yang diolah melalui proses sintesa, sehingga menghasilkan molekul baru yang bentuknya dapat diatur serupa, dan hasilnya dapat mencapai stabilitas thermal, oksidasi dan kinerja yang optimal.

Dilansir dari otoasia, pelumas yang sering kita jumpai didominasi tiga kelompok lembaga independen dalam pengklasifikasiannya. Jika kita lihat label pada kemasan, dijumpai klasifikasi SAE (Society of Automotive Enginer), API (American Petroleum Institute), dan OEM (Original Engine Manufactur).

SAE adalah klasifikasi oli menurut tingkat kekentalannya (viskositas) pada temperatur 100 derajat celcius dan di bawah 0 derajat celcius. Sementara pengertian API adalah klasifikasi pelumas berdasarkan kinerja pada kondisi kerja yang sangat berat di lapangan. Kemudian OEM merupakan tanda klasifikasi berdasarkan kinerjanya pada 'bench test' dan 'engine test' yang khusus disesuaikan dengan persyaratan pabrik mesin kendaraan di wilayah atau negara tertentu.

Untuk huruf yang tertera di kemasan oli (mesin bensin), juga menunjukkan sebuah pelumas menurut API. Mutu versi API terdiri dari dua buah huruf, diawali dengan huruf 'S' yang artinya service. Lalu diikuti huruf lain secara alfabet, yakni SA (spesifikasi kuno), SB (jarang dipakai), SC (untuk kendaraan tahun 1964 sampai 1967), SD (kendaraan tahun 1968 – 1970), SE (untuk kendaraan tahun 1972 dan seterusnya), dan SF (untuk kendaraan 1980 dan seterusnya).

Kemudian ada pula SG (kendaraan tahun 1989 ke atas), SH (kendaraan 1993 ke atas), SJ (kendaraan 1997 ke atas), dan SL (untuk kendaraan 2001 ke atas).

Khusus untuk pemilik motor bermesin 2-tak atau dua langkah (two-stroke), tak perlu khawatir pelumas khusus jenis motor ini langka, karena selain populasinya masih ada, juga produknya tetap dipasarkan/diproduksi, semisal Aprilia RS 125 dan Kawasaki Ninja 150RR. Untuk mutu pelumas bensin 2-tak berstandar API, ada pengklasifikasian berdasarkan dua huruf yang tertera.

Misalnya kode untuk mesin berpendingin udara berkode huruf TA, artinya untuk sepeda motor kecil 50cc, TB untuk motor 50 - 200cc, dan TC untuk motor 50 - 500cc. Sedangkan mutu berdasarkan JASO (Japan Automobile Standard Organization), kode JASO FA artinya adalah kemampuan deterjenisasi. Lalu spesifikasi yang lebih baik lagi ada pada kode JASO FB, dan JASO FC artinya terbaik dan tidak berasap.

Kemudian ada standar internasional lagi untuk mutu pelumas 2-tak berpendingin udara selain JASO, yakni ISO (International Organization for Standardization). Misalnya kode huruf EGB yang artinya setara dengan JASO FB, EGC yang sebanding dengan JASO FC, serta EGD yang memenuhi JASO M340-92.

Pelumas yang lama tidak diganti dapat menyebabkan kerusakan mesin. Karenanya gantilah secara rutin oli kendaraan, terutama jika warna oli telah menghitam, yang menandakan oli telah terbakar.

Ganti oli jika telah terjadi sisa dari hasil pembakaran yang menimbulkan deposit. Dan jika telah terjadi endapan yang berbentuk debu, cepat-cepatlah buang dan ganti. Jika tidak diganti dengan segera, hal ini akan mengakibatkan kandungan silikonnya naik (lumpur), sehingga kekentalan pelumas bertambah dan sulit untuk mengalir.

Terakhir, ikuti instruksi penggantian oli sesuai petunjuk pabrik pembuat mesin, sebagaimana yang tercantum pada buku pedoman servis kendaraan.

Sebagai alternatif tambahan, pilihlah pelumas dengan kekentalan pelumas pada temperatur 100 derajat celcius, viskositas indeks dan kisaran temperatur kerja. Pilih SAE yang sesuai atau dianjurkan untuk kendaraan Anda, dan yang tak kalah pentingnya adalah pilihan kandungan aditif dan faktor biaya.