Jumat, 20 April 2018 07:30 WITA

Industri Otomotif Indonesia Diprediksi Menciut 90 Persen

Editor: Nur Hidayat Said
Industri Otomotif Indonesia Diprediksi Menciut 90 Persen
Sumber Foto: Tempo.

RAKYATKU.COM, JAKARTA - Presiden RI, Joko Widodo, menyinggung banyak hal saat meresmikan pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (19/4/2018). Salah satunya soal fenomena revolusi industri 4.0.

Fenomena mencakup transformasi industri otomotif, termasuk mobil listrik yang belakangan menggema. Menurut Jokowi, konsekuensi revolusi industri 4.0 di sektor otomotif adalah bayangan tereliminasinya industri otomotif.

"Jumlah komponen otomotif dalam sebuah mobil listrik hanya 1 banding 10 dari mobil biasa yang saat ini kita pakai. Artinya apa, kalau besok semua mobil di Indonesia sudah ganti mobil listrik, industri otomotif menciut 90 persen," kata Jokowi seperti dilansir laman Viva.

Permasalahan juga tentu akan menjalar ke keberlangsungan bengkel-bengkel otomotif. Karena kendaraan listrik menggunakan mesin yang jauh lebih sederhana dari mobil biasa, maka mobil listrik bakal jarang mogok dan minim perawatan. Inilah yang akan membuat peran bengkel akan berkurang.

"Kemudian dampak dari sektor e-commerce yaitu yang namanya sharing ekonomi di sektor angkutan mobil. Tentu di Indonesia kita sangat kenal yang namanya Go-Car dan GrabCar, pelanggan dapat akses angkutan mobil kapan saja di mana saja dengan handphone."

Terkait hal tersebut, Jokowi mengaku mendapat informasi apabila perusahaan otomotif BMW saat ini tengah melakukan eksperimen abodemen bulanan. Di mana masyarakat tak perlu membeli mobil, namun membayar abodemen bulanan.

Dengan menggunakan aplikasi secara mobile mereka dikatakan bisa mengakses kapan saja dan di mana saja. "Tren-tren seperti ini harus kita baca. Akhirnya banyak yang sampaikan ngapain mesti beli mobil? Hati-hati ini. Kalau bisa akses mobil kapan saja dan di mana saja dengan menggunakan aplikasi mobile," kata dia.

"Dan kalau orang tidak lagi beli mobil, tapi hanya panggil mobil dari waktu ke waktu, dan kalau mobilnya mobil listrik semua, komponennya sedikit, jarang masuk bengkel, ya artinya industri otomotif akan menciut luar biasa. Itu prediksi-prediksi dan itu yang saya enggak percaya."

Jokowi melanjutkan, apabila ke depan bisnis otomotif beralih dari pola beli mobil ke panggil mobil, berarti mobil yang sama akan dipakai banyak orang dan terus menerus.

Pola kebiasaan pemakaian pun akan berubah. Dari situasi di mana orang punya mobil pribadi yang hanya dipakai dua sampai tiga jam per hari, sisanya menganggur di garasi, beralih kepada mobil publik.

Transportasi publik nantinya bukan hanya MRT, LRT, Busway, tetapi juga mobil publik yang bisa dipakai tiap orang. Artinya, lanjut dia, mobil akan dipakai terus-menerus. Bisa delapan jam, 20 jam, bahkan 24 jam sehari. 

"Dan kalau mobil biasa dipakai 20 jam per hari, sudah pasti mobil itu enggak tahan lama. Artinya apa? Life cycle mobil akan lebih cepat. Kalau dulu mobil pribadi bisa tahan 12 tahun, mungkin nanti mobil publik harus ganti dua sampai empat tahun. Artinya produksi mobil harus lebih banyak."

Jokowi juga membayangkan bagaimana permintaan kendaraan seperti ini akan luar biasa apabila teknologinya sudah matang. Bahwa akan ada jurang teknologi di sektor otomotif.

"Revolusi industri 4.0 akan menjungkir balikkan industri otomotif, iya. Tapi transisi ke generasi berikut dari teknologi otomotif membuka peluang," katanya.

"Yang kita perlukan adalah melek, tahu, benar benar mengikuti, benar benar mencermati, mendalami secara cepat dan mempersiapkan secara cepat. Harus cekatan, lincah, siap. Saya yakin kita bisa garap peluang yang ada."